Wednesday, November 28, 2007
Buy Nothing Day

Hari ini saya tercerahkan dengan tulisan di
Detik.com tentang
Hari Tanpa Belanja (Buy Nothing Day). Baru nyadar kalau ada beberapa kalangan yang menetapkan satu harinya untuk tidak belanja selama 24jam. Sudah beberapa negara yang menggelarnya, walau setiap negara berbeda dalam menetapkan harinya.
Penasaran untuk lebih mendalaminya saya coba buka
Wikipedia, dan ternyata memang di Indonesia juga ada yang "merayakan" hari tanpa belanja itu. Kok jadi kebayang gimana orang-orang berduit di Indonesia akan tidak melirik sedikitpun pada kegiatan ini. yah.. mungkin sebagian besar dari mereka belum tau ada gelaran seperti ini, buktinya saya aja baru tau hari ini. Atau bisa jadi mereka sudah tau tapi "
who cares??.. duit-duit gue gitu lohh.. gue mo ngapain kek.. kenapa elo yang pusing!". Agak skeptis memang karena belum tentu semua orang berpikiran seperti itu, tapi sayangnya kebanyakan orang yang saya kenal memiliki pandangan tersebut.
Dikutip dari
Wikipedia, tujuan dari Hari Tanpa Belanja tersebut adalah Hari Tanpa Belanja bertujuan untuk memberikan kesadaran publik agar mereka lebih peka terhadap apa yang mereka beli, dan seharusnya mempertanyakan produk-produk yang mereka beli dan perusahaan-perusahaan yang membuatnya. Serta membuat orang berhenti dan berpikir tentang apa dan seberapa banyak yang mereka beli telah berpengaruh pada lingkungan dan negara-negara berkembang. Kalau saya tarik secara garis besar mungkin bisa dibilang JANGAN BOROS.
Belanja sih memang gak ada larangan selama memang kita membutuhkan apa yang harus kita belanjakan. Kecinderungan yang ada pada saat ini adalah budaya konsumtif kian akut. Orang hanya membeli barang/jasa hanya biar dibilang keren bukan dari perlu/tidak perlu.
Terus terang saya juga termasuk orang yang "gatel" untuk belanja, apalagi kalau dapet proyekan yang lumayan besar atau minimal baru gajian. Sepertinya semua barang-barang "menyerbu" otak saya meminta untuk dibeli. Apalagi saya lagi seneng-senengnya dengan sepeda. Banyak dari barang atau aksesoris sepeda yang saya ingin beli. Tapi,
Alhamdulillah, semenjak berkeluarga terlebih punya anak, saya seperti punya "rem" untuk bisa menahannya.
Alhamdulillah lagi, apalagi setelah mempelajari lebih dalam agama yang saya anut. Pemborosan yang dilakukan banyak orang justru tanpa mereka sadari membuat mereka telah terpenjara atau menjadi budak dari keinginan belanjanya. Dalam agama Islam hal tersebut termasuk dalam Nafsu.
Saya pribadi kadang heran dengan orang-orang disekitar saya. Mereka tanpa beban dan berpikir panjang untuk membeli barang dengan harga yang menjulang tinggi, ada yang beralasan ini untuk hobinya atau yang lebih parah cuma sekedar untuk dibilang keren. Tapi ketika ada yang meminta sedikit saja uang yang dimilikinya untuk, misalkan, santunan anak yatim. Mereka pura-pura tidak tau atau yang nyebelin selalu bilang "gak ada duit".
What da..??
Insya Allah, misi yang diemban gerakan ini dapat menyadarkan kita bahwa kita tidak lain adalah mangsa dari para produsen yang tiap harinya menjejalkan produknya kepada kita demi mengalirnya uang ke kantong-kantong mereka. Sudah saatnya kita untuk
memikirkan terlebih dahulu apabila kita akan berbelanja atau tidak ada salahnya kalau kita juga ikut berpartisipasi dalam gerakan ini.
"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros". (QS. Al Israa: Ayat 26)Labels: Catatan, Renungan
Ditulis Ozzan 12:50:00 PM ||